Rabu, 27 Januari 2016

Analysis MEA



1.1     Latar Belakang
Sejak dibentuknya ASEAN sebagai organisasi regional pada tahun 1967, negara-negara anggota telah meletakkan kerjasama ekonomi sebagai salah satu agenda utama yang perlu dikembangkan. ar pemerintah negara-negara anggota maupun pihak swasta di kawasan ASEAN, seperti ASEANIndustrial Projects Plan (1976),Preferential Trading Arrangement (1977) dan Enhanced Preferential Trading arrangement (1987). Pada dekade 80-an dan 90-an, ketika negara-negara di berbagai belahan dunia mulai melakukan upaya-upaya untuk menghilangkan hambatan-hambatan ekonomi, negara-negara anggota ASEAN menyadari bahwa cara terbaik untuk bekerjasama adalah dengan saling membuka perekonomian mereka, guna menciptakan integrasi ekonomi kawasan.
Pada KTT ASEAN Ke-13 di Singapura, bulan Nopember 2007, telah disepakati Blueprint for the ASEAN Economic Community (AEC Blueprint) yang akan digunakan sebagai peta kebijakan(roadmap) guna mentransformasikan ASEAN menjadi suatu pasar tunggal dan basis produksi, kawasan yang kompetitif dan terintegrasi dengan ekonomi global.AEC Blueprint juga akan mendukung ASEAN menjadi kawasan yang berdaya saing tinggi dengan tingkat pembangunan ekonomi yang merata serta kemiskinan dan kesenjangan sosial-ekonomi yang makin berkurang.
Kerjasama Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) ini akan diberlakukan pada tahun 2015. Berbagai macam barang komoditi dan jasa dari negara ASEAN akan bebas masuk tanpa adanya biaya pajak impor yang tinggi. 
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) adalah sebuah peluang yang juga merupakan tantangan. Negeri ini harus segera berbenah dan tak layak tinggal diam. Indonesia memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan demi upaya memanfaatkan keterbukaan ASEAN. Dengan terbentuknya pasar tunggal yang bebas tersebut, hanya ada dua kemungkinan yang bisa terjadi terhadap posisi Indonesia dalam perekonomian ASEAN. Posisi itu, yakni menjadi pemain utama atau hanya duduk sebagai penonton.

1.2     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN ?
2.      Bagaimana tingkat produktivitas dan daya saing masyarakat Indonesia saat ini ?
3.      Bagaimana pengaruh produktivitas dan daya saing masyarakat indonesia kaitannya dengan MEA ?

1.3     Tujuan
1.      Mengetahui apa itu Masyarakat Ekonomi ASEAN.
2.      Mengetahui tingkat produktivitas dan daya saing masyarakat Indonesia saat ini.
3.      Mengetahui pengaruh produktivitas dan daya saing masyarakat Indonesia kaitannya dengan MEA.

 



2.1.      Masyarakat  Ekonomi ASEAN
Sejak dibentuknya ASEAN sebagai organisasi regional pada tahun 1967, negara-negara anggota telah meletakkan kerjasama ekonomi sebagai salah satu agenda utama yang perlu dikembangkan. Pada awalnya kerjasama ekonomi difokuskan pada program-program pemberian preferensi perdagangan (preferential trade), usaha patungan (joint ventures), dan skema saling melengkapi (complementation scheme) antar pemerintah negara-negara anggota maupun pihak swasta di kawasan ASEAN, seperti ASEAN Industrial Projects Plan(1976), Preferential Trading Arrangement(1977), ASEAN Industrial Complementation scheme (1981), ASEAN Industrial Joint-Ventures scheme (1983), dan Enhanced Preferential Trading arrangement (1987).Pada dekade 80-an dan 90-an, ketika negara-negara di berbagai belahan dunia mulai melakukan upaya-upaya untuk menghilangkan hambatan-hambatan ekonomi, negara-negara anggota ASEAN menyadari bahwa cara terbaik untuk bekerjasama adalah dengan saling membuka perekonomian mereka, guna menciptakan integrasi ekonomi kawasan.
Pada KTT ke-5 ASEAN di Singapura tahun 1992 telah ditandatanganiFramework Agreement on Enhancing ASEANEconomic Cooperation sekaligus menandai dicanangkannya ASEAN Free Trade Area(AFTA) pada tanggal 1 Januari 1993 denganCommon Effective Preferential Tariff (CEPT) sebagai mekanisme utama. Pendirian AFTA memberikan impikasi dalam bentuk pengurangan dan eliminasi tarif, penghapusan hambatan-hambatan non-tarif, dan perbaikan terhadap kebijakan-kebijakan fasilitasi perdagangan. Dalam perkembangannya, AFTA tidak hanya difokuskan pada liberalisasi perdagangan barang, tetapi juga  perdagangan jasa dan investasi.
KTT ke-9 ASEAN di Bali tahun 2003 menyepakati pembentukan komunitas ASEAN yang salah satu pilarnya adalah Komunitas Ekonomi ASEAN (AEC). AEC bertujuan untuk menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang ditandai dengan bebasnya aliran barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil dan perpindahan barang modal secara lebih bebas. KTT juga menetapkan sektor-sektor prioritas yang akan diintegrasikan, yaitu: produk-produk pertanian, otomotif, elektronik, perikanan, produk-produk turunan dari karet, tekstil dan pakaian, produk-produk turunan dari kayu, transportasi udara, e-ASEAN (ITC), kesehatan, dan pariwisata. Dalam perkembangannya, pada tahun 2006 jasa  logistik dijadikan sektor prioritas yang ke-12.
KTT ke-10 ASEAN di Vientiene tahun 2004 antara lain menyepakati Vientiane Action Program (VAP) yang merupakan panduan untuk mendukung implementasi pencapaian AEC di tahun 2020.
ASEAN Economic Ministers Meeting(AEM) di Kuala Lumpur bulan Agustus2006 menyetujui untuk membuat suatu cetak biru (blueprint) untuk menindaklanjuti pembentukan AEC dengan mengindentifikasi sifat-sifat dan elemen-elemen AEC pada tahun 2015 yang konsisten dengan Bali Concord II dan dengan target-target dan timelines yang jelas serta pre-agreed flexibility untuk mengakomodir kepentingan negara-negara anggota ASEAN.
KTT ke-11 ASEAN di Cebu bulan Januari 2007 telah menyepakati ”Declaration on the Acceleration of the Establishment of anASEAN Community by 2015”. Dalam konteks tersebut, para Menteri Ekonomi ASEAN telah menginstruksikan Sekretariat ASEAN untuk menyusun ”Cetak Biru ASEANEconomic Community (AEC)”. Cetak Biru AEC tersebut berisi rencana kerja strategis dalam jangka pendek, menengah dan panjang hingga tahun 2015 menuju terbentuknya integrasi ekonomi ASEAN.
Pelaksanaan rencana kerja strategis tersebut dijabarkan lebih lanjut melaluipriority actions yang pencapaiannya dievaluasi dan dimonitor dengan menggunakan score card. Disamping itu, diperlukan dukungan berupa kemauan politik, koordinasi dan mobilisasi sumber daya, pengaturan pelaksanaan, peningkatan kemampuan (capacity building) dan penguatan institusi, serta peningkatan konsultasi antara pemerintah dan sektor swasta.  Pelaksanaan rencana kerja strategis tersebut juga akan didukung dengan program pengembangan sumber daya manusia dan kegiatan penelitian serta pengembangan di masing-masing negara.



1.   Simpulan
1.         Produktivitas masyarakat Indonesia masih cenderung rendah yang disebabkan masih rendah nya kualitas SDM.
2.         Daya saing masyarakat Indonesia masi rendah bila dibandingkan dengan beberapa negara di ASEAN seperti singgapur, brunei dan malaysia.
3.         Indonesia masih harus banyak berbenah untuk menghadapiMEA terutama dalam hal kualitas SDM.

2.   Saran
1.      Indonesia harus memperbaiki kualitas SDM nya karena itu faktor terpenting untuk memenangkan MEA
2.      Indonesia arus meningkatkan produktivitasnya agar pasar Indonesia tidak di banjiri barang dari luar negeri
3.      Indonesia harus meningkatkan daya saing agar tidak kalah bersaing dengan penduduk negara ASEAN yang lain dalam rangka menghadapi MEA

Kamis, 07 Januari 2016

Flowhcart Mengelola Sampah

Ini merupakan flowchart yang bertema 'Sampah' hasil dari diskusi kelompok kami. Alasan kami memilih flowchart bertema 'Sampah' ini Karena lebih mudah mencari pokok permasalahannya sehingga mengikuti alur sampai penyelesaian diakhir. Terima Kasih.

Jumat, 01 Januari 2016

Masalah - Masalah Yang Dihadapi Pengusaha Kecil


    Semakin banyaknya pelaku usaha kecil menengah membuat persaingan usaha juga semakin ketat. Hal itu tentu saja kerap membuat para pengusaha kecil dan menengah beresiko mengalami kegagalan. Terlebih lagi jika dalam memulai sebuah usaha, seorang pengusaha terlalu tergesa-gesa dan tanpa adanya perhitungan yang matang.
Sering sekali kita mendengar para pelaku usaha yang menyatakan bahwa memulai usaha itu dapat dikatakan gampang-gampang susah. Kegagalan merupakan sebuah resiko terbesar yang harus dihadapi oleh para pelaku usaha, apalagi pelaku usaha yang masih pemula. Suatu persaingan bisnis, manajemen internal perusahaan dan sebagainya dapat menjadi salah satu faktor kegagalan dalam sebuah usaha.
Faktor-faktor berikut ini penting untuk diperhatikan para pelaku usaha yang baru memulai usahanya.


Pertama, sikap pengusaha. Sikap seorang pelaku usaha yang keras kepala, paranoid, tidak mau berhadapan dengan konflik dan juga resiko, perfeksionis dan merasa bahwa dirinya paling benar sendiri sering membuat mereka tidak mau menerima ide, saran atau masukan dari orang lain terlebih lagi bawahannya. Hal itulah yang bisa memicu terjadinya sebuah kegagalan dalam usaha.
Kedua, disfungsi manajemen. Kurangnya fokus, perencanaan, visi, standar dan lain sebagainya yang berkaitan dengan manajemen usaha, ditambah lagi dengan kurangnya kerjasama yang baik dengan mitra kerja juga bisa menjadi penyebab dari kegagalan sebuah usaha.


Ketiga, operasional tidak efisien. Banyaknya pengeluaran yang digunakan untuk sewa, tenaga kerja, bahan produksi dan ditambah lagi dengan karyawan yang kurang ulet serta tidak mampu melakukan negosiasi (dalam konteks yang bisa menguntungkan perusahaan) akan menyebabkan perusahaan menjadi tidak kompetitif dan mengalami kegagalan.


Keempat, akuntansi buruk. Seorang pengusaha yang tidak dapat mengontrol bisnisnya apalagi tidak memiliki data keuangan juga tidak menutup kemungkinan mengalami kegagalan. Kesalahan yang umum terjadi yaitu para pelaku usaha yang menyewa para akuntan luar untuk melakukan perhitungan pajak serta mengawasi keuangan, padahal pekerjaan seperti itu seharusnya dikerjakan oleh bagian kepala keuangan.
Kelima, kekurangan uang cash. Hal buruk yang bisa saja terjadi pada usaha kecil Anda adalah kehilangan pelanggan serta karyawan yang berpotensi, datangnya kompetitor baru dan tuntutan hukum yang bisa saja dialami oleh pengusaha manapun yang dapat mengakibatkan tekanan pada keuangan usaha. Hal itu yang bisa membuat perusahaan menjadi kesulitan dalam proses recovery jika perusahaan harus berhutang uang cash dengan jumlah yang cukup signifikan.
Keenam, pertumbuhan usaha yang tidak terkontrol. Terlalu luas berekspansi mungkin menjadi salah satu penyebab kegagalan yang ironis. Ekspansi yang gagal bisa disebabkan oleh kesalahan dalam memilih pasar yang ternyata tidak menguntungkan. Selain itu, terlalu banyak meminjam uang untuk mempertahankan pertumbuhan pada tingkatan tertentu juga menjadi penyebab sebuah kegagalan usaha.
Ketujuh, penurunan pasar. Jenis usaha seperti toko buku, percetakan, toko musik dan usaha kecil lainnya yang berhubungan dengan perubahan teknologi, permintaan pasar serta kompetisi dari perusahaan yang besar dengan daya beli yang besar pula merupakan beberapa jenis usaha yang sangat rentan mengalami penurunan pasar dan mengalami kegagalan.
Beberapa penyebab kegagalan usaha tersebut harus sering dilakukan evaluasi agar bisa segera diatasi. Namun, yang harus tetap dipahami yaitu titik berat usaha pada proses produksi dan pemasaran. Meskipun pengusaha harus tetap peka terhadap faktor-faktor lain yang sering terabaikan